Malam Tahun Baru

Posted by Admin | | Posted on 01.56

Malam Tahun Baru



Salah satu malam tahun baru yang paling kuingat adalah beberapa tahun yang lalu, di mana kami melewatkannya dalam penerbangan Cathay Pacific dari Taipei ke Hongkong. Kami memilih penerbangan itu karena itulah penerbangan paling murah. Tidak ingat lagi berapa harganya, kalau tidak salah tidak sampai Rp 1 juta. Harga yang sangat murah pada waktu itu, dan terbangnya pas tengah malam.

Kami meninggalkan langit Taipei yang sedang gegap gempita. Orang-orang berkumpul dekat Taipei 101 dan sekitarnya. Di sana ada balai kota, ada lapangan luas yang sering menjadi tempat acara-acara penting, biasanya memang selalu dijadikan pusat perayaan tahun baru.

Artis-artis ibukota meramaikan acara itu. Nama-nama yang menjadi icon dunia pop Mandarin hadir di sana. Lagu-lagu dan kembang api menggetarkan seluruh kota. Langit berwarna-warni. Semua sedikit demi sedikit meredup seiring dengan pesawat kami yang bergerak meninggi, dan menjauh.

Di dalamnya hanya senyap. Penumpang pesawat pun tidak banyak. Kami hanya saling mengucapkan Selamat Tahun baru dengan biasa-biasa saja. Meskipun di dalam hati kami tahu, pesawat ini telah membawa kami menyeberang, melintas dari tahun yang lama dan memasuki tahun yang baru.

Sesampai di Hongkong fajar belum pun terbit. Hari masih gelap. Kami langsung menuju daerah Tsim Sha Tsui untuk mencari penginapan. Di sana kami bertemu beberapa teman dari Indonesia, kami membawa yen su ci (jajanan khas Taiwan berupa goreng-gorengan) yang masih panas dari Taipei yang kami beli sore itu, eh tepatnya kemarin sore, atau lebih tepat lagi tahun kemaren, karena kami telah melintasi satu tahun.

Kami tertawa-tawa terpesona dengan penginapan teman kami yang sangat kecil. Aku langsung mengeluarkan kamera untuk mengabadikan kamar mandinya yang luar biasa sempit, hanya cukup untuk satu orang berdiri, pas. Kasurnya harus dilipat agar punya ruangan untuk bercakap-cakap dalam kamar. Benar-benar fantastis.

Sebelumnya kami sudah pernah dengar tentang rumah-rumah dan kamar-kamar hotel yang serba sempit di Hongkong, namun ketika menyaksikan sendiri, aku tetap tidak bisa menerima kenyataan. "Kita harus cari alternatif," kataku ketika melihat kondisi penginapan itu. Harga penginapan di sana kalau tidak salah ingat sekitar 300 ribu rupiah, harga penginapan di Hongkong yang paling murah. "Dengan harga segitu, kita masih bisa dapat yang kondisinya lebih baik," kataku yakin.

Lalu kami pun ngider, sambil menenteng backpack kami, mengitari sudut-sudut Tsim Sha Tsui, ruko-ruko yang tinggi di antara gang-gang sempit seperti yang sering kita tonton dalam film-film gengster Hongkong, begitulah modelnya. Hongkong masih tidur saat itu, belum menampakkan jati diri yang sesungguhnya.

Untunglah, kami berhasil menemukan sebuah tempat yang lebih layak. Saya lupa namanya. Penginapan kecil di ruko-ruko seperti itu bertebaran banyaknya, sehingga nama menjadi hal yang tidak terlalu menonjol. Penginapan itu milik seorang yang dulu pernah tinggal di Indonesia, dia bisa berbahasa Indonesia. Kamarnya tetap sempit, tetapi masih agak mending dibanding tempat penginapan teman kami itu.

Setelah berhasil menemukan tempat tidur untuk malam itu, kami pun meletakkan tas dan bergegas keluar, mencari sisa-sisa perayaan tahun baru di Hongkong.

Di Tsim Sha Tsui park kita bisa melihat pemandangan laut dan Hongkong Island di seberangnya. Inilah yang sangat saya sukai dari Hongkong. Hongkong yang terdiri dari daerah peninsula dan beberapa pulau memiliki transportasi laut. Yang nyaman dan murah.

One thing about Hongkong, is StarFerry, ferry yang menyeberangkan kita dari bagian Kowloon (peninsula) ke Hongkong Island dengan tarif sekitar 2000 rupiah saja saat itu. Saya senang karena betapa kita bisa selalu dekat dengan laut, tetapi juga dekat dengan kota. Hongkong salah satu mecca kapitalisme, namun masih ada hal-hal eksotis seperti ini. Saya selalu memilih menikmati debur laut dan angin alamiah dibanding menyeberang dengan MRT ataupun mobil. Maklumlah, sebagai turis punya kemerdekaan untuk tidak perlu rapi-rapi dan tidak perlu mengejar waktu seperti halnya mbak-mbak dan mas-mas kantoran yang tentu saja akan memilih MRT.

Ya, selain kapal, kedua daratan yang dipisahkan perairan itu juga bisa diseberangi dengan jembatan gagah perkasa yang dibangun di atas laut dan MRT yang melintas di bawah laut.

Singkat cerita, itulah salah satu cara mengawali tahun baru yang seru. Menyeberang tahun dengan pesawat, melalui hari-hari awal tahun baru di tempat yang asing, berpetualang ke tempat-tempat baru. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Shenzhen, Macau dan Zhuhai setelah menjelajah beberapa tempat di Hongkong.

Setelah itu, tidak banyak lagi tahun baru yang seperti itu. Kebanyakan tahun baru dalam hidupku disambut di rumah. Rumah sendiri, rumah kos, rumah kakak, rumah orang tua. Pernah juga "turun ke jalan" dalam keramaian merayakan tahun baru di Jakarta, tapi itu duluuuu.... haha. Sekarang bukan masanya lagi.

Beberapa tahun ini malam tahun baru berarti makan malam, sering kali dengan barbeque, sambil menonton TV yang menyiarkan pergantian tahun di berbagai negara. Sambil menonton kembang api dari TV yang indah-indah, ada juga kembang api live dari jendela apartemen kami, dimana terlihat kembang api yang meriah dari arah Ancol. Suaranya pun terdengar kencang. Dentuman kembang api bergelegar di dalam hati kita memberikan degup harapan pada tahun yang akan datang.

Itulah yang paling aku sukai dari tahun baru. Itulah yang selalu sama, dimana pun kita berada. Tak penting dimana kita merayakan tahun baru. Tahun baru selalu memberikan harapan baru. Semua orang berdoa dan berharap akan tahun yang lebih baik. Tidak semua membuat resolusi, tapi semua mempunyai harapan, bahwa tahun baru akan lebih baik, lebih hebat. Pada saat kembang api diluncurkan, meluncur juga jutaan doa seluruh umat manusia di dunia.

Semoga alam semesta mengabulkannya.

Selamat Tahun Baru 2010. Semoga tahun depan semakin semarak. Semakin exciting. Semakin banyak petualangan. Amin.

(foto dari Tripadvisor)

Comments (0)

Posting Komentar